Bu Hayati, Sang Mujahidah Yang Berjalan dengan Sebelah Kaki

Oleh: Koordinator Pusat Komunitas Koperasi Syariah 212, Eka Rusmiyanti

Kemarin, Jumat 29 Juni 2018 saya menghadiri acara GO 212mart Mesjid Al Iman Sumur Batu Jakarta Pusat.

Entah mengapa perasaan haru sejak kakiku melangkah masuk arena Mesjid Al Iman Sumur Batu terasa begitu berbeda. Tidak seperti biasa saat aku menghadiri acara GO sebelumnya.

Sejak awal hatiku berdegub keras dan ada rasa haru dan lainnya berkecamuk di dalam hatiku. Ya, bahkan perasaan itu ‘pecah’ ketika aku memberikan sambutan mewakili KS 212 Pusat. Air mata ini tidak bisa dibendung lagi.

Aku menangis dan menumpahkan perasaan haru dan bahagia ini dihadapan para hadirin. Dan aku melihat merekapun rupanya ikut menangis haru ketika aku menyampaikan apa yang kurasakan.

Bu Hayati ini adalah salah satu Mujahidah yang memiliki semangat juang yang luar biasa. Meski tertatih-tatih. Meski dengan segala keterbatasan. Meski kadang harus naik kereta. Meski kadang harus menginap di mana.

Meski kadang harus menumpang kendaraan siapapun yang bersedia memberikan tumpangan. Pernah juga harus mendorong motor yang mogok di jalan.

Semua pahit manisnya telah dirasakan oleh beliau. Menghadapi semua permasalahan sendiri, kadang menangis sendiri dan tidak tahu ke mana harus mengadu.

Ya, ibu Hayati menghadapi semua sendiri sejak puluhan tahun yang lalu ditinggal oleh belahan jiwanya. Sejak 18 th yg lalu tepatnya sekitar tahun 2000, belahan jiwa pergi meninggalkannya dan dua orang anak yang masih kecil-kecil.

Dia bertahan hidup sendiri sampai saat ini demi anak-anaknya. Pensiunan ASN di instansi pemerintah ini adalah seorang mualaf sejak 2003 yang lalu. Tepatnya tiga tahun setelah kepergian sang suami.

Allah memberikan hidayah kepadanya dengan segala tantangan dan cobaannya. Memang hidupnya penuh derita dan drama.

Tapi dia selalu tersenyum dan menyembunyikan dalam-dalam kesedihan dan dukanya. Tak seorangpun tahu apa yang ada di hatinya. Ya, dia pandai sekali menyembunyikan perasaannya.

Begitu pula di Komunitas Koperasi Syariah 212 Jakarta Pusat, sejak pertama kali bergabung, banyak hal yang dihadapi.

Kegiatan menjadi Ketua RT di lingkungan rumah tidak mengurangi semangatnya mengembangkan Koperasi Syariah 212.

Pernah dikhianati, ditinggalkan, difitnah, dan dicemooh merupakan hal yang biasa dia hadapi. Bu Hayati patut terharu.

Patut gembira dan bersyukur ketika beliau dan teman-teman seperjuangannya seperti Pak Nico, Pak Idhamzal, Pak Lugi, dan lainnya akhirnya bisa mewujudkan impian membuka gerai 212Mart di lingkungan mesjid Al Iman, Sumur Batu, Jakarta Pusat ini. Mereka terus berupaya setelah belasan kali ditolak dan gagal karena berbagai alasan.

Tapi ternyata Allah Maha Penolong, berkat pertolongan dan dukungan yang diberikan oleh Pengurus Masjid Al Iman dan dibantu oleh Ketua DKM Masjid yang merupakan seorang Jenderal TNI.

Alhamdulillah, cita-cita untuk membuka gerai 212Mart terwujud sudah. Walau dengan hanya dengan tipe terkecil. Walau dengan segala keterbatasan. Walau dengan segala hambatan dan ancaman. Walau dengan jumlah hadirin yg tidak seramai tempat-tempat lain. Walau tidak semeriah di tempat lain.

Namun, aku bisa merasakan betapa bahagianya Ibu Hayati dan teman-teman bisa melaksanakan acara Grand Opening ini. Akupun merasakan hal yang sama. Akupun bahagia, terharu. Semua campur aduk. Ini yang kedua kali aku menangis ketika memberikan sambutan.

Aku menangis di sini, haru dan bahagia. Terbayang semua perjuangan selama ini yang telah dilakukan oleh Ibu Hayati dan teman-teman semua.

Bagaimana mereka bolak balik mengajukan tempat dan lainnya. Sungguh mereka adalah orang-orang yang sabar dan gigih.

Ibu, hari ini. Ijinkan aku mengatakan sesuatu. Bahwa, aku bangga padamu Ibu. Engkau mujahidah sejati. Engkau patut dan pantas menerima sebutan itu.

Shortlink:

Terkait