Koperasi Syariah 212 Sudah Dikomunikasikan ke Presiden

Sebagai gerakan pemberdayaan ummat yang taat hukum dan pro NKRI. Jadi sebenarnya Koperasi Syariah 212 dapat dijadikan mitra pembangunan.

Sebagai gerakan, keberadaan Koperasi Syariah 212 terus dikomunikasikan ke berbagai pihak. Ketua Umum Koperasi Syariah 212, Dr. Muhammad Syafii Antonio mengisahkan pihaknya telah secara aktif mengomunikasikan keberadaan Koperasi Syariah 212 ke beberapa pejabat dan tokoh nasional, bahkan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo.

“Dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) alhamdulillah baik penerimaannyaya. Dengan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, KH Maruf Amin, apalagi. Saya juga sudah melakukan pertemuan beberapa kali dengan Kepala Bappenas, Prof. Dr. Bambang Brodjonegoro. Kebetulan dengan Bapak Presiden, jauh sebelum pertemuan Presiden dengan Ustad Bachtiar Nasir, dalam kapasitas sebagai salah satu anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN), saya menyampaikan (kepada Presiden—red), di Indonesia belum banyak lembaga keuangan mikro yang berbasis syariah yang mendapat perhatian dari pemerintah. Subhanallah ini ada gerakan yang besar, yang bergerak secara kondusif, tidak mengharapkan apa-apa, insyallah untuk menghindar dari riba dan mengharapakan untuk terjadinya konsolidasi di antara ummat. Seharusnya (gerakan—red) ini bukan dianggap  ‘yang ada di seberang jalan’. Ini adalah mitra karena kita pro NKRI, kita ini inginnya ada dalam hukum Indonesia, menjalankan sesuai rule of law. Nah alhamduilah komunikasi itu berjalan”, kata Syafii kepada para pimpinan Komunitas Koperasi Syariah 212 pada acara silaturahim dan sosialisasi program baru Koperasi Syariah 212 di Sentul, Sabtu (8/7).

Namun, bukan berarti semua orang mendukung Koperasi Syariah 212. “Jika ada yang di seberang sana, sudah terlanjut tidak menyukai kita, biakan saja, anjing menggonggong kafilah berlalu. Justeru tantangan untuk kita adalah bagaimana kita bisa bersatu”, kata Syafii lagi.

Memang menjadi tantangan besar bagi penggiat gerakan pemberdayaan ummat ini, untuk bagaimana bisa menyatukan aneka kepentingan menjadi kohesif. Dalam praktiknya di Koperasi Syariah 212 juga tidak mudah, Syafii mengakui, baik itu di komunitas, pengurus, pengawas dan penasehat.  Alhamdulilah, katanya, dengan itikad  bersama, “Pengawas, pengurus, dan penasehat sudah oke dan sudah solid. Memang ada perbedaan pendapat namun hanya di wilayah strategi pelaksanaan”, kata Syafii menegaskan. Sekarang tantangannya adalah bagaimana membangun kohesifitas di antara komunitas.

Sulit dipungkiri, memang ada beda pendapat, sesekali di antara satu dua komunitas, antara lain terkait pendirian 212Mart baru-baru ini. Namun bagusnya sudah bisa diselesaikan dengan bantuan mediasi dari Direktur Eksekutif Koperasi Syariah 212, Ahmad Juwaini.

Oleh karena itu, menurut Syafii, dalam membangun keberjamaahan ummat ini, dalam menciptakan kohesifitas komunitas, ada baiknya ummat memerhatikan prinsip yang pernah dikemukakan oleh salah satu ulama terkemuka yang kurang lebih artinya begini: “Kita bekerjsama dalam apa yang kita sepakat dan kita berlapang dada dalam apa yang kita beda. Insyallah dengan prinsip ini kita bisa terus berjalan kompak bersama”, kata Syafii menegaskan.

Terkait