Jika Tidak Ada Koperasi Syariah 212, Mungkin 212 ini Hanya Tinggal Nama

Aksi 212 pada 2 Desember 2016, sudah lama berlalu, tapi namanya tetap harum hingga kini, bahkan bertransformasi menjadi gerakan kebangkitan ekonomi umat.

Dewan Pengawas Syariah (DPS) Koperasi Syariah 212, KH. Muhyiddin Junaidi berharap, Koperasi Syariah 212 akan terus berkembang tidak hanya kuantitas juga kualitas. Karena lembaga ini baru berdiri tahun lalu, biasanya mengoordinasi sebuah gerakan butuh waktu dan penyamaan visi. “Maka perlu ada para mukharik atau penggerak. Kalau tidak ada penggerak, 212 ini hanya tinggal nama. Maka dibutuhkan mukharik-mukharik yang memiliki mental mujahid, inshaAllah”, kata KH Muhyiddin dalam tausiyahnya di Rapat Anggota Tahunan Koperasi Syariah 212, Sabtu, 24 Maret 2018 di Andalusia Islamic Center (AIC), Sentul City, Bogor.

Kyai juga petinggi di Majelis Ulama Indonesia (MUI), memabcakan Alquran surat as Shaf ayat 10-11 dia wal tausyiahnya. Ia mengaku, mencoba memahami mengapa Alquran mengajukan pertanyaan, “Maukah ditunjukan bisnis yang selalu menguntungkan?”, kata KH Muhyiddin. Dari situ, menurutnya bisa dilihat bahwa seseorang yang terjun di perdagangan harus memiiki iman yang kuat.

Hal ini berbeda dengan perdagangan konvesnional yang cenderung hanya mencari profit. Mencari keuntungan semata bagi bisnis modern adalah lumrah. Tapi dalam bisnis Islam, bukan keuntungan semata, tapi ibadaha. Itula makanya, iman harus diperkuat karena di dalma dunia bisnis, menurut KH Muhyiddin, yang abu-abu bisa menjadi putih, yang putih bisa menjadi merah, dan sebagainya. Oleh karenanya, ia menegaskan, “Yang bergabung di Koperasi Syariah 212, harus solid imannya, karena godaannya banyak.

Mengapa iman yang kokoh masih sangat dibutuhkan, ternyata menurut KH Muhyiddinm iman itu melahirkan minimal lima sikap. Pertama, mental penyabar. Kedua, melahirkan orang-orang yang jujur. Bisa dilihat di surat Ali Imran ayat 17. Kalau Anda sabar dan jujur, rezeki akan datang dengan sendirinya. “Jangan menipu, harus transparan, tidak boleh mengurangi takaran. Itu kejujuran, belajarlah dari Korea Selatan, belajarlah dari Jepang. Saya sebagai ketua Islamic board di sebuah perusahaan Jepang melihat, bagaimana orang Jepang tidak punya agama tapi jujur. Tapi mengapa orang Indonesia yang shalatnya lima waktu, Muslim pula, tapi belum jujur”, kata KH Muhyiddin menjelaskan.

Yang keempat, gemar berinfak, infak tidak tidak identik dengan uang, infak termasuk di dalamnya memberikan solusi, masukan atau saran yang positif. Kelima, iman membuat kita tidak lupa bangun shalat tahajud.

Shortlink:

Terkait