212Mart Langsa Aceh: “Ekonomi Indonesia Masih Mengekor Kapitalisme”

Gerai 212 Mart Langsa Aceh diresmikan Sabtu, 14 April 2018 oleh Walikota Langsa yang diwakili oleh H. Asisten 2 Walikota, Abdullah Gade, MPD. Gerai ini terletak di Jl Ahmad Yani 182 C, Kotamadya Langsa, Aceh.

Menurut Ketua Komunitas Koperasi Syariah (KS) 212 Langsa, Aceh, Khaerul Fuadi, total investasi dikumpulkan untuk mendirikan gerai 212 Mart pertama di Aceh ini adalah senilai Rp 561 juta. Nilai tersebut dikumpulkan dari sekitar 190 orang investor. Mereka kebanyakan adalah masyarakat umum, baik yang tinggal di Langsa, maupun investor dari luar.  Yaitu, masyarakat Aceh yang tinggal di Qatar, yang kebetulan warga Langsa. Jumlahnya Sekitar 50 dari seluruh investor. Jika dirata-rata sendiri, investor menyetor dana sekitar Rp 2 jutaan.

Pendirian gerai yang diawali oleh pembentukan komunitas, dimulai dengan peluncuran WhatsApp Group (WAG) yang diinisiasi oleh Bapak Said Mahfudh dari paguyuban Masyarakat Serambi Mekah di Qatar pada 11 Nopember 2017. Jadi dalam rentang lebih kurang lima bulan, dengan izin Allah gerai 212 Mart bisa didirikan di Langsa. Alhamdulillah , ini merupakan bagian dari kemudahan yang Allah berikan kepada kami.

Untuk legalitasnya, sejak Januari, Khaerul dan kawan-kawan sudah  mendapatkan Surat Keputusan (SK) dari Kementerian Koperasi untuk badan hukum koperasinya, yaitu Koperasi Syariah Muslim Aceh Darussalam. Ini adalah kemudahan, karena Khaerul dan kawan-kawan awalnya berpikir sulit untuk pendirian koperasi syariah itu. “Kami mendengar dari teman-teman di daerah lain, hal itu sulit sekali”, kata Khaerul kepada Koperasi Syariah 212, Selasa (17/4)

Gerai pertama di Langsa ini, memiliki penyuplai mandiri. “Kami masih bergerilya secara mandiri, memang harganya lebih bagus, tapi perlu upaya lebih untuk mencari penyuplai itu. Dibandingkan gerai di Jabodetabek, kami harus lebih bekerja keras”, kata Khaerul menjelaskan.

Saat pendirian gerai juga, Komunitas KS212 Langsa Aceh ini memiliki anggota sebanyak 212 orang. Angka yang pas dengan aksi yang menjadi inspirasi gerakan pendirian 212Mart di mana-mana.

“Saya secara pribadi masih menimba ilmu di luar negeri ketika aksi 212 terjadi, namun beberapa teman di Komunitas kami adlaah alumni 212. Seperti gayung bersambut, ketika kami menyosialisasikan, kawan-kawan alumni 212 itu segera bergabung”, kata Khaerul mengisahkan.

Sulit dipungkiri, nama 212 cukup kuat mendorong semangat masyarakat Langsa untuk bangkit secara ekonomi. Bahkan, banyak yang bertanya kapan gerai ini akan GO? Jadi, menurut Khaerul, 212 adalah sebuah momentum.

Momentum untuk kebangkitan ekonomi. “Kalau kita kembali kepada UUD 1945 tepatnya pasal 33 (1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar asas kekeluargaan, sebenarnya perekonomian yang digagas oleh para Bapak pendiri bangsa adalah perekonomian yang dibangun melalui institusi koperasi. Tetapi belakangan kita melihat, kecenderungannya kita malah mengekor kapitalisme”, Kata Khaerul. Ia pun mengilustrasikan, ketika gross domestic product (GDP) tinggi tapi kesenjangan makin tinggi juga.

Sementara, jika melihat Negara-negara Eropa, seperti Skandinavia, justeru sebaliknya. Mereka berhasil maju dengan koperasi ini. “Bahkan Denmark yang 30 persen penduduknya anggota koperasi merupakan salah satu negara dengan pertumbuhan GDP tertinggi di dunia. Tapi tentu saja berbeda dengan Amerika yg GDP nya juga tinggi tapi kesenjangannya juga lebar. Di Denmark GDP tinggi itu dinikmati lebih merata oleh rakyatnya karena kesenjangan tidak lebar. Ini tidak lepas dari peran koperasi sebagai sokoguru ekonomi mereka, seperti cita-cita pasal 33 (1) UUD 1945 yang masih menjadi mimpi bangsa ini. Di mana, kemajuan ekonomi harus menjadi tujuan bersama, di mana ini menjadi tujuan dari ekonomi syariah”, kata Khaerul menegaskan.

Shortlink:

Terkait